Sushi paling enak sedunia

Rabu, Oktober 19, 2011

Oleh Trinity The Naked Traveler

Saya termasuk doyan makanan Jepang. Di Indonesia banyak restoran Jepang bertebaran, dijajakan mulai dari warung kaki lima sampai fine dining di hotel bintang lima. Kuliner Jepang ini juga tersebar di hampir  setiap negara di dunia. Tapi bagaimana masakan Jepang di negaranya sendiri?

Makanan Jepang paling populer adalah sushi. Padahal konon asalnya justru berasal dari Asia Tenggara, disebarkan ke Cina, sebelum sampai ke Jepang. Awalnya sushi itu adalah ikan asin yang dibungkus nasi hasil fermentasi, tapi lama-kelamaan berubah menjadi sushi yang kita kenal sekarang yaitu ikan di atas gumpalan nasi non-fermentasi.

Pas saya ke Jepang, saya pun puas-puasin makan sushi. Di sana sushi tersedia di mana-mana, mulai dari mini market sampai restoran, kokinya pun banyak yang membuat sushi langsung di depan tamu. Ternyata saya baru sadar bahwa sushi di Indonesia itu ternyata fancy abis. Per potong nasi gulung itu ukurannya besar dan tampak warna-warni. Isinya variatif, mulai dari belut, salmon, sapi, dilumurin mayones, bahkan ada yang dijejali cabe rawit. Begitu saya makan sushi di Jepang, semuanya berbeda dengan yang biasa saya makan di Indonesia. Sushi di Jepang nggak macem-macem, kebanyakan yang berbentuk gumpalan nasi yang ukurannya pas dimakan sekali suap dan di atasnya diberi sashimi (potongan ikan mentah), disebut dengan nigiri sushi.
Konon sushi di Indonesia itu pengaruhnya datang dari Amerika Serikat, yang mana mereka tidak suka makan ikan mentah dengan rasa yang “polos”. Jadilah dimodifikasi dengan bentuk rolled sushi (makizushi). Salah satunya yang terkenal adalah California Roll yang isinya nasi, ketimun, alpukat, crab stick yang digulung. Lucunya, ketika saya makan sushi di negara tetangga Jepang, yaitu di Korea Selatan, ternyata di sana juga doyannya makan rolled sushi yang berisi macam-macam dengan mayones yang banyak. Semakin “mahteh”, justru dianggap semakin enak.

Perbedaan lain adalah soal condimentssebagai pelengkap rasa makan sushi. Orang kita kan doyan dengan condiments, contohnya kalau makan bakso, sebelum kuah dicobain udah dimasukin sambal, garam, cuka, jeruk, dan lain lain. Di Jepang, kalau makan sushi, soy sauce biasanya disediakan di botol kecil, orang pun hanya menaruh sedikit sekali di mangkuk kecilnya. Sushi dicocol hanya sekali, pada ujung ikannya saja, lalu dimakan satu kali suap. Jadi saus itu hanya untuk menambah sedikit rasa. Sementara di kita, sushi diceburin ke dalam saus yang menggenang di mangkuk sampai nasinya berwarna hitam, baru dimakan. Kalau wasabi di Jepang dioleskan sedikit pada ikan baru dibentuk sushi, di kita wasabi dilumurin sendiri sampai kadang menjerit karena hidung mau meledak kebanyakan makan wasabi.

Di Tokyo, saya diajak teman, Junanto, untuk makan “sushi yang paling enak sedunia” dengan harga terjangkau di restoran Sushizanmae, daerah Tsukiji Market. Setelah 2 minggu di Jepang dan makan sushi yang menurut saya enak, tawaran itu tentu saya sambut dengan gembira. Saya memang suka sushi jenis nigiri, dan di Indonesia saya doyannya makan nigiri sushi salmon karena menurut saya salmon adalah ikan yang paling enak di dunia. Eh kata Junanto, “Harus coba yang tuna!”. Ih, padahal saya nggak doyan tuna. “Yang ini lain!”, katanya meyakinkan. Saya pun pasrah dipesankan Maguro Set, yaitu paket nigiri sushi dengan ikan tuna.
Satu set itu terdiri dari empat potong sushi. Pertama, “akami” (daging tuna biasa seperti yang ada di restoran  sushi di Indonesia). Kedua, “chu toro” (bagian perut tuna), ini rasanya lebih lembut dan gurih. Ketiga, “chu toro” yang di-flambe. Keempat, dan ini yang paling orgasmus, namanya “O toro” (bagian antara perut dan kepala atau leher tuna). O dalam bahasa jepang, huruf kanjinya, artinya raja atau besar, jadi tak heran kalau O toro ini bagian yang paling fatty dan enak. Ya ampuun, baru kali ini saya makan ikan mentah yang meleleh di mulut! Enaaaaaaaaak banget! Saya pun setuju, sushi paling enak sedunia itu adalah yang barusan saya makan.
Habis makan, saya pun memperhatikan cara pembuatannya. Bukan cara pembuatan sushi, tapi cara membuat sashimi. Ikan ukuran besar yang masih hidup masuk ke dalam restoran. Si tukang jagal, eh staf yang bagian potong ikan, mengambil ikan yang masih bergerak-gerak tersebut dan meletakkannya di atas talenan. Saya pikir akan dibelek, nggak taunya si ikan “dikretekin” alias ditekuk sedemikian rupa sampai berbunyi “krek krek” – mungkin dipatahin tulangnya. Ikan yang masih “megeh-megeh” itu pun disayat dagingnya, tanpa muncratan darah. Hmm, pantas saja sashimi di Jepang enak banget. Tidak ada yang lebih enak makan ikan selain makan ikan fresh, karena rasa daging ikannya manis dan tidak berbau. Bahkan kalau dapat “o toro”, makannya pun bisa “orgasme”! Ooo…

0 komentar:

Poskan Komentar

Your Comment please

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Daftar Blog Saya

 
My Inspiration © 2011 | Designed by Interline Cruises with Harrie modification